We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Minggu, 01 Juni 2014

PERTAHANKAN PAPUA DI PANGKUAN IBU PERTIWI




Class Review 12

Rumitnya masalah Papua Barat, masih akan terus menjadi bahan perbincangan para ahli politik dunia. Permasalahanya yaitu sulit mengerti dan mempraktekan arti dari makna persatuan dan kesatuan nasional Papua Barat itu sendiri. Setiap kelompok ingin menonjolkan dirinya sendiri. Tidak ada yang mau kalah. Ini adalah persoalan-persoalan dasar di Papua Barat yang kini memperpanjang perjuangan. Kita tidak bisa menyalahkan Indonesia sendiri. Disini para pemimpin Papua Barat harus menginropeksikan diri sendiri dan menyadari adanya persoalan dasar ini. Yang kita perlu adalah kesadaaran akan hal ini dan mencari jalan keluar bersama-sama mengatasi persoalan dasar ini.
Melalui tulisan-tulisan ini mungkin akan memberikan banyak pencerahan untuk masa depan Papua dalam bingkai NKRI. Tidak melalui pelepasan Papua dari NKRI, Tapi sama-sama bahu membahu dalam mencari jalan keluar yang terbaik untuk kedepannya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis argumentative essay ini. Seperti yang sudah dikatakan oleh Ken Hyland dalam bukunya “Teaching and Researcing Writing” (second edition) halaman 80. Bahwa process of writing is:
1.      Problem Solving :                                Iinvension Strategy
Extensive Planning
2.      Generative       :                                   Discover
Explore
3.      Recursive        :                                   Constan Review
4.      Development   :                                   Process
Setiap kualitas penulis yang baik itu selalu lahir dari pembaca yang hebat (Ken Hyland). Pertemuan kemarin masih mengenai revisi paper argumentative essay mengenai Papua. Ada banyak hal yang mesti saya revisi dari paper yang sudah saya buat. Mulai dari judul yang kurang tepat. Dan untuk setiap reasoningnya harus dipayungi oleh strategy-strategy khusus agar menjadi pondasi yang kuat untuk tulisan saya. Karena menurut neliau, strategy ini seperti atap untuk rumah. Selanjutnya, dalam argumentative essay kali ini, jika memungkinkan untuk mencantumkan beberapa conflik yang ada di Papua akan lebih baik untuk mengambil data dari teks “Don’t Use Your Data as a Pillow” (Ebben).
Mr. Bumela juga memberikan saran untuk mencantumkan sejarah ndonesia historical pauses di Indonesia dari tahun :
1.      1908
2.      1928
3.      1945
4.      1960
Inilah yang disebut historical pauses tentang apa saja yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu btersebut.
Disini saya akan memnyebutkan beberapa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia yang terhubung langsung dengan Papua. Kronologi sejarah memperlihatkan point penting dari sejarah perjalanan Papua.
Chronology of history will reveal important points of the history of Papua
1)      1292 - 1521 Majapahit Empire rule in Indonesia, including Papua
2)      The agreement signed in 1660 between Tidore and Ternate, under the auspices of the Netherlands, the document states that the King of Tidore Papua
3)      1828 the Dutch set up an administrative post in the Fakfak, Papua
4)      1898 the Dutch set up an administrative post in Manokwari
5)      1918 Netherlands mistake was its constitution to include the whole of Indonesia, including Papua
6)      1942, Japan beat Netherlands, consequently occupy Indonesia, including Papua
7)      August 17, 1945 Indonesia declared its independence for the entire region, including Papua
8)      1945 Dutch tried to hold back the newly independent Indonesia July 20, 1947 First "Police Action" by Netherlnads
9)       1947 Agreement signed Linggarjati
10)   Renville Agreement was signed in January 1948
11)   December 18, 1948 The second "Police Action" by Dutch
12)   23 August to 2 November 1949 Round Table Conference in The Hague
13)   27 November 1949 The Hague Agreement is signed, the Dutch recognized   Indonesian independence but remains unresolved status of Papua
14)   January 1952 Netherlands mistake was its constitution to include within its own  territory Papua
15)   1959 The Netherlands chose a regional council in Papua
16)   2 September 1961 the Dutch Minister of Foreign Affairs presented a proposal to the
General Assembly about the future of Papua
17)   January 17, 1962 Acting Secretary General of the United Nations and the Netherlands invited Indonesia to discuss the issue of Papua.
18)   March 11 1962 The Acting Secretary-General U Thant appointed Amb. Elseworth Bunker as a mediator.
19)   2 April 1962 the United States informed the Dutch proposal to resolve the Papuan problem under "Bunker Plan."
20)   13 April 1962 Dutch Cabinet reluctantly agreed to the Bunker Plan.
21)   May 25, 1962 the UN made ​​public the details of the Plan Bunker
22)   August 15, 1962 The New York Agreement signed by Indonesia and the Netherlands.
23)   October 1, 1962 UNTEA Administration begins in Papua.
24)   January 1, 1963 official Indonesian flag flying alongside the flag of the UN.
25)   March 13, 1963 Indonesia will establish diplomatic relations with the Netherlands.
26)   May 1, 1963 UNTEA transfer administration of Papua into Indonesia.
27)   July 14, 1969 The Act of Free Choice begins with the sound uninamous Merauke Merauke Assembly to remain with Indonesia.
28)   July 17, 1969 The Act of Free Choice was conducted in Wamena Wamena sound Uninamous by the Assembly to remain with Indonesia.
29)   July 19, 1969 The Act of Free Choice Nabire done with sound uninamous by Nabire Assembly to remain with Indonesia.
30)   July 23, 1969 The Act of Free Choice was done in the Fakfak with sound uninamous by the Fakfak Assembly to remain with Indonesia.
31)   July 26, 1969 The Act of Free Choice was conducted in Sorong to Sorong sound uninamous by the Assembly to remain with Indonesia.
32)   July 29, 1969 The Act of Free Choice was conducted in Manokwari Manokwari sound uninamous by the Assembly to remain with Indonesia.
33)   July 31, 1969 The Act of Free Choice was conducted in Biak Biak sound uninamous by the Assembly to remain with Indonesia.
34)   August 2, 1969 Final Assembly meeting in Jayapura Jayapura sound uninamous by the Assembly to remain with Indonesia, to end the Act of Free Choice.
35)   6 November 1969 the UN Secretary General U Thant presents its report to the General Assembly on the Implementation of the Act of Free.
36)   19 November 1969 UNGA adopted Resolution 2504 (XXIV) recognizes Papua as part of Indonesia.
37)   21 November 2001 Indonesia grants special autonomy for Papua.
Kesimpulannya adalah, masa lalu tidak akan pernah berlalu. Bangsa yang besar adlah bangsa yang mampu menghargai sejarah bangsa lain seperti bangsa Papua. Karena orang yang tidak menghargai sejarah bangsa lain, iapun akan tidak dihargai oleh orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic