We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Rabu, 19 Februari 2014

Chapter Review


Indonesia Membutuhkan Literasi yang Tinggi

 

Literasi adalah salah satu kata yang sedang marak dikalangan guru bahasa.  Literasi itu sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis.  Literasi sangat asing ditelinga semuanya, karena kebanyakan dari mereka hanya mengenal “Pengajaran bahasa atau pembelajaran bahasa”.  Terkadang diartikan dengan educated.

            Kini jamannya sudah berubah dan canggih.  Karena tekhnologi yang semakin pesat, sehingga masyarakat Indonesia telah dimakan oleh jaman yang tambah canggih ini.  Kenapa dikatakan telah dimakan???  Karena tekhnologi yang bertambah canggih dan berkembang sangat pesat di Indonesia, tetapi masyarakatnya kebanyakan tidak bisa menggunakannya atau memanfaatkan fasilitas tersebut.  Karena budaya barat sudah banyak menyelinap ke Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia (mati kutu) dengan perubahan jaman yang bertambah canggih ini, dengan bertambah canggihnya, sehingga banyak tenaga kerja yang kalah dengan mesin yang begitu canggih.  Akibatnya banyak tenaga buruh yang menganggur.

Kita kembali ke literasi!

            Sesungguhnya literasi adalah sebuah praktik cultural yang berkaitan dengan persoalan social dan politik.  Tetapi dalam dunia pendidikan sekarang telah beralih ke definisi baru, yaitu memaknai literasi dan pembelajaran, sehingga ada ungkapan literasi computer, literasi arithmatika, literasi IPA.  Kemudian Freebody dan Luke menawarkan model literasi:

1.      Memahami kode dalam teks (Breaking the code of texts)

2.      Terlibat dalam memaknai teks (Participating in the meaning of texts)

3.      Menggunakan teks secara fungsional (Using texts functionally)

4.      Melakukan analisis dan mentransformasi teks secara kritis (Critically analyzing and transforming texts)

Kesimpulan yang dapat kita ambil, yaitu:

Ø  Memahami

Ø  Melibati

Ø  Menggunakan

Ø  Menganalisis

Ø  Mentransformasi teks

Itulah hakikat berliterasi secara kritis dalam masyarakat yang demokratis.  Literasi hubungannya dengan penggunaan bahasa dan merupakan kajian lintas disiplin yang memiliki tujuh dimensi yang saling berkaitan:

1.      Dimensi Geografis (lokal, nasional, regional, dan internasional).  Literasi seseorang dapat dilihat dari tingkat pendidikan dan cara bergaulnya.

2.      Dimensi Bidang (pendidikan, komunikasi, administrasi, hiburan, militer).  Lain halnya dengan dimensi geografis, dimensi bidang akan tergantung pada kecanggihan tekhnologi komunikasi dan persenjataan yang digunakan.

Contohnya, pendidikan:  Pendidikan yang berkualitas tinggi, otomatis akan menghasilkan literasi yang berkualitas tinggi juga.

3.      Dimensi Keterampilan

Ø  Membaca

Ø  Menulis

Ø  Menghitung

Ø  Berbicara

Literasi seseorang akan muncul ketika membaca, menulis, menghitung, dan berbicara.  Semua sarjana pasti mampu membaca tetapi kadang tidak mampu menulis sama sekali.  Karena kualitas tulisan yang mereka terbitkan, yaitu tergantung dari mahasiswanya tersebut, apakah telah banyak mengunyah dan menyerap kata-kata yang ada pada buku atau dari mana saja yang dapat diperoleh, tidak hanya dari buku.  Itu semua sangat mempengaruhi dalam tingkat menulisnya dan cara berbicaranya.  Sehingga dapat dikatakan memiliki literasi yang tinggi.

4.      Dimensi Fungsi (Memecahkan persoalan, mendapatkan pekerjaan, mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, mengembangkan potensi diri).

Orang yang literat harus dapat memecahkan masalah atau situasi.

5.      Dimensi Media (Teks, cetak, visual, digital).

Zaman sekarang untuk menjadi seorang literat tidak cukup membaca dan menulis teks saja.  Tetapi harus menggunakan visual dan digital.  Penguasaan IT (Information Technology) sangat penting, sehingga kini kehebatan universitas diukur lewat webometricks, sejauh mana perguruan tinggi itu diperbincangkan dalam dunia maya.

6.      Dimensi Jumlah (satu, dua, beberapa)

Orang multilaterat akan mampu berinteraksi dalam berbagai situasi.  Jumlah dapat merujuk pada bahasa, variasi bahasa, peristiwa tutur, bidang ilmu, media, dan masih banyak lagi.

7.      Dimensi Bahasa (etnis, lokal, nasional, regional, internasional).

Ø  Literasi Singular

Ø  Literasi Plural

Jika seseorang mahasiswa jurusan bahasa inggris dan budayanya sunda.  Otomatis mahasiswa tersebut memiliki tiga bahasa, yaitu: Sunda, Inggris, dan Indonesia.  Semua bahasa ini harus benar-benar balance.

Perbandingan antara ORASI dan Literasi:

Menurut Chape, 1985: Nickercon, 1981; Smith, 1984, Ellis, 1998.

Bahasa lisan atau orasi mengacu pada proses dari aspek berbicara dan mendengarkan.  Bahasa tulis atau literasi dengan definisi yang paling umum, mengacu pada proses dari aspek membaca dan menulis:

ORASI:

v  Sifatnya hamper universal, individual, normal.

v  Diperoleh tanpa banyak pelatihan formal, sepanjang kehidupan seseorang.

v  Secara khas melibatkan kontak langsung bersemuka (face to face).

v  Sering melanggar aturan tata bahasa yang sifatnya formal.

v  Diproduksi dalam periode waktu yang cepat.

v  Kemungkinan lebih cepat dilupakan, tetapi dapat juga bertahan lebih lama bergantung pada reaksi emosional dari penyimak.

v  Dipercaya untuk mengakui kekurangan atau kesalahan dalam kaitannya dengan susunan penyampaian lisan.

LITERASI:

v  Jauh dari universal dan sering kurang dikembangkan dengan baik.

v  Diperoleh melalui pembelajaran dan usaha keras, diperoleh setelah penguasaan bahasa lisan.

v  Pengiriman pesan kepada penerima melalui pemindahan yang leluasa dalam bentuk tertulis, tidak bersemuka.

v  Menurut ketaatan aturan bahasa.

v  Diproduksi dalam waktu yang lambat.

v  Bisa bertahan lebih lama (melalui penerbitan) dapat diubah-ubah sebelum disampaikan kepada pembaca.

v  Dipercaya untuk mencerminkan pengetahuan, ketepatan pribadi, kepercayaan dan sikap.

Literasi secara luas dimaknai sebagai kemampuan berbahasa yang mencakup kemampuan menyimak, berbicara, membaca dan menulis, serta kemampuan berfikir yang menjadi elemen didalamnya.

Tompkins (1991:18), mengemukakan bahwa literasi merupakan kemampuan menggunakan membaca dan menulis dalam melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan dunia kerja dan kehidupan diluar sekolah.  Dan, WELLS berpendapat bahwa literasi merupakan kemampuan bergaul dengan wacana sebagai presentasi pengalaman, pikiran, perasaan, dan gagasan secara tepat sesuai dengan tujuan.  Sedangkan,

Menurut UNESCO:

Seseorang disebut literate apabila ia memiliki pengetahuan yang hakiki untuk digunakan dalam setiap aktivitas yang menuntut fungsi literasi secara efektif dalam masyarakat dan pengetahuan yang dicapainya dengan membaca, menulis, dan arithmetic, memungkinkan untuk dimanfaatkan bagi dirinya sendiri dan perkembangan masyarakat.

      Kesimpulan:

Menrut saya, literasi itu bisa diartikan dengan seseorang yang mengerti hukum di negaranya sendiri.  Bisa juga diartikan dengan melek huruf atau kecakapan dalam membaca dan menulis.  Tetapi, sedangkan menurut JAMES GEE (1990) mengartikan bahwa literasi dari sudut pandang ideologis kewacanaan yang menyatakan bahwa literasi adalah “Master of, or fluently control over, secondary discourse”.  Atas dasar literasi yang dimiliki seseorang berdasarkan keterampilan, membaca, menulis, berfikir, berbicara.

      Pendapat saya bahwa literasi itu dipengaruhi oleh budaya, dimana kita tinggal.

Contohnya:

1.      Jika seseorang tinggal di desa yang terpencil dan banyak sampah yang berserakan.  Berarti seseorang tersebut literasinya rendah.  Kenapa dikatakan rendah???  Karena jika seseorang memiliki literasi yang tinggi, orang tersebut tidak akan membuang sampah sembarangan, dan tidak akan ada sampah yang berserakan disekelilingnya.

2.      Jika seseorang itu dari gaya bahasanya sopan berarti seseorang tersebut memiliki literasi yang tinggi.

3.      Tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tidak menyerobot lampu merah, mau mengantri berjam-jam, merokok ditempat yang sudah disediakan, tidak parker sembarangan.

Itulah yang patut dikatakan seseorang yang memiliki literasi yang tinggi.  Menurut saya, seorang pendidik di Indonesia hanya mengerahkan pada empat kompetensi berbahasa, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, masih belum dipahami oleh seorang pendidik.  Kenyataan ditemukan, ketika pendidik membelajarkan siswa untuk membaca dengan standar kompetensi “Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif”, dengan kompetensi dasar “ Menemukan perbedaan paragraph induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif”.  Tetapi sampai akhir pelajaran, siswa hanya berlatih menuliskan kedua jenis paragraph tersebut.  Tetapi siswa tidak dilatih untuk menemukan perbedaan antara kedua paragraph tersebut.

Jika dibandingkan dengan Negara-negara maju, siswa SMA (Sekolah Menengah Atas) di Amerika, Belanda, dan Prancis diwajibkan membaca 30 buku sastra, jepang diwajibkan membaca 15 buku sastra, di Brunei diwajibkan membaca 7 buku sastra, dan di Singapura mewajibkan membaca 6 buku sastra.  Oleh karena itu, Indonesia mempunyai keinginan untuk meningkatkan kemampuan membacanya, ya harus diwajibkan membaca buku sastra juga.  Agar ada kemajuan, khususnya bagi para siswanya.

Menulis Akademik adalah bagian dari literasi yang mesti dikuasai oleh para (calon) sarjana.  Itulah literasi.  Bagaimana jadinya, jika Indonesia tetap dititik ini (mahasiswanya tidak bisa menulis) dan tidak ada perubahan? Mungkin akan tetap menjadi Negara yang tertinggal.

Selain itu literasi tidak hanya sekedar mampu membaca dan menulis saja, tetapi juga harus fasih, efektif, kritis dalam menggunakan bahasa.  Literasi juga mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwacana secara tertulis maupun secara lisan sejak dahulu, pendidikan bahasa memberikan kebebasan kepada semua siswa agar berekspresi dengan lisan atau tulisan.

Adapun yang menyarankan agar 3-R dirubah menjadi 4-R, yaitu:

1.      Reading

2.      Writing

3.      Arithmetic

4.      Reasoning

Seharusnya para guru menawarkan 4-R secara integral.  Tingkat literasi siswa Indonesia yang masih tertinggal oleh siswa Negara-negara lain.  Kalu menurut saya, jangankan siswanya, masyarakatnya pun belum berhasil menciptakan warga Negara yang literat, mungkin bisa dikatakan gagal.

Contoh kecilnya yaitu sampah.  Mr. Lala mengatakan bahwa seseorang yang membuang sampah pada tempatnya, itu bisa dikatakan mempunyai literasi yang tinggi.  Tetapi faktanya, warga Negara Indonesia, rata-rata tidak membuang sampah pada tempatnya.  Padahal Negara Indonesia mayoritas muslim.

AL-QUR’AN mengatakan: “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.  Tetapi kenapa masih saja membuang sampah tidak pada tempatnya.

 

Kenapa kita literasinya kalah oleh Negara Singapura yang mayoritas non muslim.  Tetapi mereka mempunyai literasi yang tinggi dengan cara membuang sampah pada tempatnya.  Sehingga tak satu pun sampah yang berserakan di lingkungan.

      Bukan suatu kebetulan bahwa pertanyaan tentang identitas adalah salah satu tema yang sering dibahas pada tahun 1980-1990, semua itu berbau krisis jangka panjang, makna yang siap pakai dan muncul relative stabil.  Makna memiliki diversivikasi, ireversibel, mungkin semuanya berjuang untuk membuat scenario.  Mau tak mau, kita menggunakan kata-kata orang lain.  Dalam hal ini sangat penting, bahkan di dunia makna.

      Dalam bukunya Hyland menyebutkan orientasi ini lahir dari perkawinan linguistic structural dan teori-teori belajar behavioris pengajaran bahasa kedua yang dominan pada tahun 1960 (Silva, 1990).  Pada dasarnya, menulis dipandang sebagai suatu produk, dibangun dari perintah seorang penulis pengetahuan tata bahasa dan leksikal dan menulis dianggap hasil dari meniru dan memanipulasi model yang disediakan oleh guru.  Bagi yang mengadopsi ini, menyatakan bahwa menulis dianggap sebagai perpanjangan dari tata bahasa sarana memperkuat pola bahasa melalui pembentukan kebiasaan dan menguji kemampuan peserta didik untuk menghasilkan kalimat well-formed.

      Bagi orang lain, menulis adalah struktur rumit yang hanya bisa dipelajari dengan mengembangkan kemampuan untuk memanipulasi lexis dan tata bahasa.  Untuk menulis secara efektif adalah sesuatu yang membutuhkan luas dan khusus intruksi, akibatnya melahirkan komposi mahasiswa yang luas industry di perguruan tinggi Amerika.

      Perintah dalam menulis yang baik semakin dilihat sangat penting untuk membekali peserta didik untuk sukses di abad ke-21.  Kemampuan untuk mengulirkan ide dan informasi secara efektif melalui digital global jaringan krusial tergantung pada keterampilan menulis.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic