We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Kamis, 20 Februari 2014

literasi?????



Chapter Review

Definisi literasi
Semenjak saya masuk Sekolah Dasar sampai SMA belum pernah sebelumnya saya mendengar kata literasi. Jadi apakah pengertian dari literasi itu? Definisi lama literasi adalah kemampuan membaca dan menulis (7th edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005: 898).  Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia akan menjadi pengajaran bahasa atau pembelajaran bahasa (Setiadi: 2010).  Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Sementara menurut badan pendidikan dunia UNESCO, konsep literasi tidak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca-tulis, tapi juga berkaitan dengan kemampuan memaknai teks, seperti huruf, angka, dan simbol kultural, seperti gambar dan simbol secara kritis.  Jadi kesimpulan dari beberapa pengertian di atas adalah bahwa literasi merupakan sebuah sistem pendidikan yang tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis tapi juga menyangkut memaknai teks dan simbol kultural. 
Sementara literasi dalam arti luas seperti diungkapkan di atas, sejatinya juga sudah cukup lama menjadi acuan UNESCO.  Ini bisa kita baca dari Literacy for Life, laporan UNESCO tahun 2006 tentang literasi dunia. Di situ dinyatakan, literasi adalah hak dasar manusia sebagai bagian esensial dari hak pendidikan. Terpenuhinya hak literasi memungkinkan kita mengakses sains, pengetahuan teknologi, dan aturan hukum, serta mampu memanfaatkan kekayaan budaya dan daya guna media. Singkatnya, literasi menjadi poros upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Karena itu, ia merupakan sumbu pusaran pendidikan.
Literasi di Indonesia    
Setiap perkembangan negara-negara yang ada di dunia ini, selalu ditandai dengan berkembang atau meningkatnya kemampuan literasi yang ada pada negara tersebut.  Secara umum, dalam bukunya yang berjudul “POKOKNYA REKAYASA LITERASI” Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah mengungkapkan lima kelompok besar periodisasi metode dan pendekatan.  Semua dijelaskan secara jelas dalam tulisannya tersebut.  Setuju atau tidak itulah faktanya.  
Dalam lima kelompok besar periodesasi metode dan pendekatan diterangkan menganai masa-masa berkembangnya literasi.  Ternyata pendekatan literasi terdapat pada urutan yang terakhir sebagai metode dan pendekatan yang diterapkan dalam dunia pendidikan.  Di Indonesia sendiri metode dan pendekatan literasi baru diterapkan dalam kurikulum 2004.  Disebutkan pembelajaran melalui metode ini dilakukan melalui empat tahapan, yaitu: (1) membangun pengetahuan (building knowlwdge of field), (2) menyusun model-model teks (modeling of text), (3) menyusun teks bareng-bareng (joint construction of text), dan (4) menciptakan sendiri teks (independent construction text)
Menurut sumber lain, dalam disiplin ilmu pendidikan, kemampuan nalar sejatinya bertaut erat dengan literasi. Perlu dicatat, konsep literasi di sini tak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca-tulis.  Prof. Iwan Pranoto, guru besar matematika Institut Teknologi Bandung, dalam sejumlah tulisannya mengingatkan soal pendidikan bernalar. Kemampuan bernalar dalam konteks ini mencakup daya berpikir logis, keterampilan mengolah informasi dari bacaan, dan kemampuan menyimpulkan dengan pemikiran sendiri.
Masih dari sumber yang sama, jika kita ingin menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara yang memiliki literasi tinggi seperti, Finlandia, Jepang, dan Amerika, maka tentunya kita harus mencontoh pola pendidikan yang diterapkan di negara-negara tersebut.  Yang pertama menempatkan buku sebagai pusaran kegiatan pembalajaran.  Yang kedua, diperkenalkan dengan konsep buku dan berdialog dengan teks dan gambar sejak usia dini, tentunya dengan dibantu oleh guru.  Yang ketiga, sejak usia sekolah dasar, siswa dikondisikan untuk belajar memperkaya kosakata dan menumbuhkan daya analisis mereka menggunakan bacaan berjenjang (leveled reading), yang disesuaikan dengan tingkat kognitif dan kematangan mereka.  Sebagai imbas dari kebiasaan membaca berjenjang yang diterapkan di negara-negara tersebut akan menumbuhkan cinta mereka terhadap membaca.  Singkatnya peningkatan literasi terkait erat dengan pengoptimalan peran buku.
Meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi di Indonesia, namun pada kenyataanya berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), PISA(Program for International Student Assessment), dan TIMSS (the Third International Mathematics and Science Study) yang telah diikuti oleh Indonesia sejak tahun1999, ditmukan bahwa:
1.      Skor prestasi membaca di Indonesia adalah 407 (untuk semua siswa), 417 untuk perempuan dan 398 untuk laki-laki.  Angka tersebut termasuk di bawah rata-rata negara peserta lainnya yaitu sekitar 500, 510, dan 493.  Indonesia menempati urutan ke-5 dari bawah.
2.      Negara yang skor prestasi membacanya tinggi (di atas rata-rata) ditandai dengan pendapatan perkapita masyaraktnya dan berdasarkan indeks pembangunan manusia (HDI).
3.      Ditemukan tiga kategori negara berdasarkan perbandingan skor membaca literacy purposes (LP) dan informational purposes (IP).  Kategori pertama adalah negara yang nilai LP lebih tinggi daripada IP, yang kedua adalah negara yang nilai IP lebih tinggi daripada LP dan kategori yang terakhir adalah negara yang nilai IP relatif sama dengan nilai LP.
4.      Di Indonesia hanya tercatat 2% siswa yang prestasi membacanya masuk dalam kategori sangat tinggi,   
Pada perkembangannya literasi zaman sekarang tidak hanya menyangkut kemampuan baca-tulis, melainkan sudah berkembang pesat.  Literasi yang berkembang sekarang sudah meliputi literasi teknologi, literasi membaca (bahasa), literasi matematika dan literasi sains dan pengetahuan.  Literasi teknologi, dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi, sadar akan efek hasil teknologi, dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman, tepat, efesien dan efektif.  Literasi membaca dapat dibagi menjadi tiga aspek utama, yaitu aspek struktur dan jenis wacana, aspek proses membaca, dan aspek konteks pemanfaatan pengetahuan dan keterampilan membaca.  Literasi matemaika tentunya berkaitan dengan peningkatan kemampuan siswa dalam bidang studi matematika dan mampu menaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi sains adalah kemampuan menggunakan pengetahuan sains untuk mengidentifikasi permasalahan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan tentang alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia (PISA, 2000).   Literasi sains dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat (Widyatiningtyas, 2008).
Menurut Widyawatiningtyas, literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis, atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia), dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains, mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif membuat produk teknologi sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai.
Perkembangan literasi di dunia
  Hidup di dunia ini pada dasarnya tidak ada yang tidak mungkin, hanya masalah kemauan yang harus dibarengi dengan kerja keras untuk meraih apa yang menjadi tujuan hidup kita.  Berbeda kasusnya jika kita harus mengubah pola pikir sebuah bangsa, yang tentunya tidak akan mudah.  Jika terlalu dipaksakan tentu hasil yang diperoleh tidak akan maksimal.  Menurut pendapat saya cara yang terbaik untuk memperbaiki ketertinggalan Indonesia dalam hal literasi adalah dengan memperbaiki pola pikir para pemimpin bangsa ini terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan memperbaiki pola pikir masyarakatnya.  Tidak perlu terburu-buru untuk merubah pola pikir seluruh masyarakat di Indonesia, yang terpenting adalah pelan tapi pasti. 
Bukankah dalam data Indeks Pembangunan Manusia  (IPM) / Human Development Index (HDI) tahun 2007 meskipun Indonesia menempati urutan yang sama dengan tahun sebelumnya, namun secara penilaian Indonesia mengalami kenaikan sebesar 0,005.  Jika kita mengetahui sejarah manusia dalam mencapai peradaban seperti sekarang ini adalah melalui sebuah proses yang panjang, dimulai dari turunnya manusia pertama di muka bumi ini hingga hari kiamat kelak dunia akan terus berkembang, begitu juga dengan kemampuan manusia dalam hal literasi.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.
Sebuah negara dapat dikatakan sebagai negara yang memiliki kemampuan literasi yang tinggi jika memenuhi tiga kriteria yang telah ditentukan dalam IPM.  IPM mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia:
  • hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran
  • Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar , menengah , atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).
  • standard kehidupan yang layak diukur dengan logaritma natural dari produk domestik bruto per kapita dalam paritasi daya beli.
Setiap tahun Daftar negara menurut IPM diumumkan berdasarkan penilaian diatas.  Pengukuran alternatif lain adalah Indeks Kemiskinan Manusia yang lebih berfokus kepada kemiskinan.
Menurut sebuah sumber yang di internet menyatakan: peningkatan literasi terkait erat dengan pengoptimalan peran buku. Fungsi buku dan teks bukan sekadar rujukan, tapi juga sebagai medium untuk berpikir kritis dengan cara mendiskusikan makna yang bukan sekadar permukaan. Pendidikan yang melibatkan buku dan bahan bacaan (lebih dari sekadar buku teks) sebagai sumber ajar akan memfasilitasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang dialogis, aktif, dan kritis.  Buku tentu saja bukan satu-satunya faktor di sini. 
Peningkatan literasi siswa juga mengandaikan perlunya guru dipersiapkan untuk menanamkan pemahaman literasi dan mengajarkannya di kelas. Dengan begitu, siswa punya kesempatan meningkatkan daya literasi mereka di sekolah.  Dari ketengan tersebut dapat disimpulkan bahwa, alasan mengapa Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tertinggal dalam hal literasi adalah karena kita (Bangsa Indonesia) tidak menerapkan pengetahuan tentang literasi sejak dini.
Solusi dalam mengatasi ketertinggalan Indonesia dalam hal literasi.
11 gagasan ihwal literasi sesuai dengan tantangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini.
1.      Ketelibatan lembaga-lambaga sosial. 
2.      Tingkat kefasihan yang relatif. 
3.      Pengembangan potensi diri dan pengetahuan.
4.      Standar dunia. 
5.      Warga masyarakat demokratis. 
6.      Keragaman lokal. 
7.      Hubungan global. 
8.      Kewarganegaraan yang efektif.
9.      Bahasa Inggris ragam dunia.
10.  Kemampuan berpikir kritis.
11.  Masyarakat semiotik.
Dari 11 hal di atas kita bisa menilai sendiri apakah Indonesia sudah termasuk negara yang sudah berliterasi tinggi atau masuk termasuk dalam katergori rendah?
Untuk mengatasi ketertinggalan Indonesia dalam bidang literasi ini, yang paling mendesak untuk segera dilakukan mengubah atau merevisi paradigama lama yang telah usang dan menggantinya dengan paradigma yang lebih merefleksikan kebutuhan berliterasi di era ketika siswa dikelilingi teks, informasi dan gambar dari perbagai penjuru dunia.  Upaya strategis yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya literasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan di sekolah.  Mengapa disekolah? Karena di tempat itulah siswa diajarkan berbagai hal yang berkaitan dengan bidang literasi.
Kesimpulan dari semuanya adalah bahwasanya literasi segala sesuatu yang berhubungan tidak hanya dengan baca-tulis tetapi juga dengan semua hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.  Literasi akan selalu berkembang dan terus berkembang sampai akhir kerena itulah kodrat manusia yang tidak akan pernah merasa puas dengan suatu hal.

 
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_Indeks_Pembangunan_Manusia
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic