We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Rabu, 28 Mei 2014

The Last Class Review



Class Review 12
Tantangan terakhir membuat class review dalam satu malam. Ini cukup sulit untuk saya, karena dalam class review sebelumnya saya mengerjakan bukan dalam satu malam. Tapi saya mengerjakan dengan cara menulis beberapa paragraf selama beberapa hari agar ide yang saya punya bisa lebih dikembangkan lagi. Sebuah perjalanan panjang dikala menyusuri Papua Barat membuat saya harus mengetahui lebih banyak mengenai tragedi apa yang terjadi disana dan mengapa Papua Barat harus tetap dipertahankan.
Pada pertemuan tanggal 13 Mei 2014, kami membahas mengenai hasil dari paragraf argumentative pertama yang telah dibuat. Mr.Lala ingin mengetahui sejauh mana kualitas tulisan kami dalam memahami konflik yang terjadi di Papua Barat. Hal terpenting adalah bagaimana komposisi dari paragraf argumentative kita, apakah termasuk kedalam lima kategori yang sesuai dengan ketentuan atau sama sekali tidak sesuai.
Menurut Ken Hyland, Writing As :

 

 

 

 

 


1.      Problem Solving, maka strategi yang dilakukan adalah strategi penemuan (Invention Strategy). Kita harus menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan dalam pembuatan paragraf argumentative ketika membaca buku, itu merupakan strategi awal. Bisa juga dengan cara (Extensive Planing) yakni merencanakan secara luas untuk mendapatkan ide yang matang agar bisa menemukan titik permasalahan yang harus dibahas secara mendalam.
2.      Generative, yang harus dilakukan adalah (Discover) menemukan titik permasalah dan penyelesaiannya. Lalu kita harus (Explore) ide-ide yang telah disiapkan untuk lebih digali lagi.
3.      Recersive, kita harus meninjau ulang hasil dari penemuan kita sehingga kita dapat memodifikasi isi dari paragraf argumentative agar tidak monoton. (Constant Review / Modifikasi).
4.      Collaborative, kita bisa melakukan penambahan atau kolaboratif penemuan baru kita dan dihubungkan dengan penemuan sebelumnya. Sehingga akan mendapat sebuah paragraf argumentative yang tersusun secara kronologis.
5.      Development, kategori ini termasuk kategori yang menggunakan cara (Improvement) atau perbaikan untuk mendapat kualitas tulisan yang baik.
(Alwasilah 2001;2002) Literasi itu tidak pernah netral. Hal tersebut dipengaruhi dengan adanya Ideologi dari setiap penulis yang akan memberi rasa yang berbeda-beda dalam setiap karya tulisnya. Sebuah teks tidak lepas dari adanya keterkaitan antara History, Literasi, dan Ideologi. Dengan kemampuan literasi, kita bisa mendobrak suatu sejarah. Seorang penulis yang handal pasti memiliki ideologi tertentu untuk memunculkan rasa pada tulisannya sehingga mampu menghipnotis para pembaca.
Jika kita lihat pada paragraf argumentative pertama ini, sepertinya alasan maupun pendukung argumen kita kurang begitu menonjol. Karena kejadian yang sebenarnya bisa diungkap untuk mendukung alasan kita yakni Event besar pada tahun 1908, 1928, 1945, dan 1960. Kronologi sejarah tersebut dapat menguatkan argumen kita agar bisa diterima oleh pembaca.
Pada tahun 1908 terjadi peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan Kebangkitan Nasional Pertama yaitu Organisasi Pergerakan Budi Utomo, yang dipelopori oleh Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi Budi Utomo adalah organisasi kebangsaan pertama, yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) seperti Soetomo, Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T Ario Tirtokusumo, pada tanggal 20 Mei 1908. Tujuan yang hendak dicapai dari pendirian organisasi Budi Utomo tersebut antara lain:
  1. Memajukan pengajaran.
  2. Memajukan pertanian, peternakan dan perdagangan.
  3. Memajukan teknik dan industri.
  4. Menghidupkan kembali kebudayaan.
Pada kongres pertama di Yogyakarta , diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru Budi Utomo yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Dibawah kepengurusan "generasi tua", kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, akhirnya mulai bergeser di bidang politik. Strategi perjuangan Budi Utomo juga ikut berubah dari yang awalnya sangat menonjolkan sifat protonasionalisme menjadi lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial belanda.
Pada tanggal 28 Oktober 1928, lahirlah sumpah pemuda yang merupakan pengakuan dari pemuda-pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Sumpah pemuda adalah hasil dari Kongres pemuda II yang dilaksanakan melalui tiga tahap. Rapat pertama dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 1928, Mohamad Yamin memberikan uraian tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Rapat kedua pada tanggal 28 Oktober 1928 membahas masalah pendidikan. Rapat ketiga membahas pentingnya Nasionalisme dan demokrasi, maka tersusunlah rumusan sumpah pemuda.
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu karena kota Hiroshima dan Nagasaki telah dibom. Kekalahan Jepang memberikan kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk merebut kekuasaan. Pada tanggal 17 agustus 1945, Ir.Soekarno dan Moh.Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, bukan berarti Indonesia terbebas dari penjajahan karena tiga tahun kemudian Belanda tiba dan kembali menjajah dengan melancarkan aksi Militernya untuk merebut kembali Indonesia.
Pada tahun 1960 Indonesia menjadi negara adidaya di era Soekarno. Pada saat itu kekuatan Militer Indonesia adalah salah satu yang terkuat dan terbesar di dunia. Kekuatan Militer Belandapun kalah oleh kekuatan Militer Indonesia. Ini membuat Amerika khawatir dengan perkembangan Militer Indonesia yang didukung oleh teknologi terbaru Uni Soviet. Pada tahun 1960, Belanda masih berada di Papua. Melihat kekuatan negara Indonesia yang semakin hebat, Belanda yang didukung Papua Barat merancang tipu daya untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka tapi masih dibawah kendali Belanda.
Jadi dapat disimpulkan bahwa writing dilihat sebagai problem solving, generative, recersive, collaborative, dan development. Lehtonen mengatakan bahwa “sebuah tulisan yang bagus datang dari pembaca yang bagus”. Maka dari itu berawal dari membaca akan menghasilkan tulisan yang bagus.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic