We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Selasa, 27 Mei 2014

THE LAST CLASS REVIEW


Class Review 12
Bersahabat dengan sepi merupakan sebuah keharusan dan kebiasaan. Kini ku mulai lagi bersahabat dengan sepi. Ku ukir sejarah dalam sepi. Sejarahku ketika menulis. Sejarahku merangkai kata demi kata dalam buku catatan class review. Dalam sepi pikiran ini akan terasa lebih terang. Dalam sepi hati ini merasa lebih jernih. Dalam sepi jiwa ini merasa lebih tenang.
Selasa pagi, mata kuliah “Writing and Composition 4” kini telah memasuki pertemuan ketigabelas. Selasa pagi, dimulai pada tanggal 13 mei 2014, pukul 10.50, tepatnya di ruang 44 gedung PBI. Sangat luar biasa sekali, saya dan teman-teman PBI-C harus mengerjakan class review dan merevisi argumentative essay hanya dalam waktu satu malam. Ini merupakan tantangan terberat kami. Pada mata kuliah “Writing and Composition 4” ini telah banyak kami menulis. banyak sekali liku-liku yang kami hadapi dalam membuat paper dan menulis. Pertama, kami disuguhkan dengan appetizer essay tentang minimnya kemampuan membaca dan menulis di tingkat perguruan tinggi. Kedua, kami ditugaskan untuk membuat chapter review dari tulisan A. Chaedar Alwasilah yang berjudul “Rekayasa Literasi”. Ketiga, kami mulai membuat critical review dari artikelnya Prof. A. Chaedar Alwasilah yang berjudul “Classroom Discourse to Foster Religious Harmony”. Keempat, kami ditugaskan membuat critical review 2 dari artikelnya Howard Zinn yang berjudul “Speaking Truth to Power with Books”. Kelima, membuat critical review 3, yang mana kami harus membahas tentang Columbus yang ternyata bukan penemu Benua Amerika. Keenam, kami ditugaskan untuk membaca dan memahami teks yang berjudul “Don’t Use Your Data as a Pillow” yang ditulis oleh Eben Kirksey. Dalam artikelnya tersebut, Eben menulis tentang hasil penelitiannya di Papua Barat. Artikel tersebut akan mengantarkan kami pada pembuatan argumentative essay. Sungguh merupakan proses yang panjang dan tantangan yang begitu berat di mata kuliah “Writing and Composition 4” ini, namun itu adalah pengalaman membaca dan menulis yang paling berharga yang telah Mr. Lala berikan kepada kami.
Argumentative essay merupakan paper terakhir kami dalam mata kuliah “Writing and Composition 4” ini. Namun, sangat tidak mudah dalam membuat argumentative essay, karena memerlukan proses yang panjang. Disini, kami harus lebih banyak membaca. Kami harus memahami tentang Papua Barat. Kami harus tahu dan memahami sejarah Indonesia dalam memperjuangkan Papua Barat untuk menjadi bagian dari NKRI. Selain itu, kami juga harus mengetahui sebenarnya konflik apa yang terjadi di Papua Barat dengan Indonesia dan siapa saja yang terlibat didalmanya. Kami juga jadi mengetahui tentang Freepot dan juga British Petroleum (BP). Dalam membuat argumentative essay kita harus benar-benar banyak membaca dan mempunyai pengetahuan yang luas. Karena itu adalah kunci utama dalam membuat argumennative essay. Seperti yang dikatakan oleh Mikko Lehtonen, bahwa a good writing is a good reader.
Dalam bukunya Ken Hyland (2006) yang berjudul “Teaching and Researching Writing”, menjelaskan bahwa dari penelitian tentang penulis, kita kenal dengan gagasan bahwa penyusunan adalah non-linear dan tujuan-driven, dan bahwa siswa dapat memperoleh manfaat dari memiliki berbagai menulis dan merevisi strategi yang menarik. Sama, penelitian tentang teks sendiri menunjukan nilai pengetahuan formal dan efek positif kemampuan bahasa. Hal ini menarik perhatian pentingnya pengetahuan encoding dan hubungan tepat melalui leksikal dan pilihan tata bahasa dan struktur wacana.
Dari penelitian tentang audience, kita menyadari pentingnya hal yang tepat untuk perspektif pembaca, strategi interaksional, dan teks tertentu masyarakat konvensi, dan dari pendekatan kritis kita menyadari kebutuhan untuk melihat bentuk sering tereifikasi wacana sasaran hanya sebagai bergengsi (dan contestable) cara membuat makna. Tentu saja, untuk selalu menerapkan teori-teori kami kepada siswa yang sebenarnya penulis di kelas kami, dan mengakui bahwa mereka cenderung memiliki ide-ide mereka sendiri tentang apa tulisan yang baik terdiri atas pengalaman budaya dan sosial mereka sebelumnya.
Instruksi tertulis yang sukses membutuhkan kesadaran pentingnya dari kedua faktor kognitif dan sosial. Guru yang telah memahami berarti memberikan topic yang relevan, mendorong kerjasama rekan, dan menggabungkan kegiatan kelompok dari berbagai jenis. Banyak guru menawarkan pelatihan siswa dalam strategi komposisi yang dapat ditransfer di seluruh situasi, membantu mereka untuk brainstorming, konsep, dan merevisi, bersama dengan saran tentang bagaimana struktur tulisan mereka sesuai tuntutan dan kendala konteks tertentu dan kebutuhan pembaca tertentu. Dengan kata lain, sementara kita belajar menulis apa yang kita tulis harus terkait dengan genre dan konteks kita harus terlibat masuk ini berarti bahwa perhatian terhadap penonton sangat penting, dan bahwa umpan balik dari guru dan teman sebaya bersama-sama dengan penelitian pada khususnya pembaca dan membaca yang tepat dapat membatu siswa mengantisipasi harapan pembaca tertentu. (Grabe, 2003 ; Johns, 1997).
·         A process view of writing:
1.      Writing is problem-solving
Writers use invention strategis and extensive planning to resolve the rhetorical problem that each writing task presents (menulis adalah pemecahan masalah. Penulis menggunakan strategi penemuan perencaan yang luas untuk menyelesaikan masalah retoris yang ada pada setiap writing task yang disajikan.
2.      Writing is generative
Writers explore and discover as they write (penulis mengesplorasi dan menemukan ide-ide yang mereka tulis).
3.      Writing is recursive
Writers constantly review and modify their text as they write and often produce several drafts to achieve a finished product (penulis terus menerus meninjau dan memodifikasi teks-teks mereka karena mereka menulis dan sering menghasilkan beberapa draft untuk mencapai selesainya pembuatan).
4.      Writing is collaborative
Writers benefit from focused feedback from a variety of sources (manfaat penulis dari umpan balik fokus dari berbagai sumber).
5.      Writing is developmental
Writers should not be evaluated only on their final products but on their improvement (penulis tidak harus dievaluasi pada produk akhir mereka, tetapi pada perbaikan mereka).
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa butuh proses yang panjang dalam menulis dan membuat argumentative essay merupakan essay terakhir dalam mata kuliah “Writing and Composition 4”. Dalam bukunya Hyland, terdapat lima tampilan proses dalam menulis, yaitu writing is problem solving, writing is generative, writing is recursive, writing is collaborative, and writing is developmental.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic