We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Senin, 26 Mei 2014

Masih Berselancar di Lautan Ide



Class Review 12
Tuesday, May 13th 2014
 
            Sama halnya seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini pun selalu berkarib dengan sepi dan ditemani dengan lembaran-lembaran putih yang selalu ingin dihiasi dengan goresan-goresan indah pena ini.  Malam ini terasa begitu berbeda dan terasa begitu berat.  Bagaimana tidak? Lembaran-lembaran putih tersebut harus diselesaikan dalam waktu satu malam saja.  Hebat bukan?
            Disaat tubuh tidak sejalan dengan keadaan, otak ini masih berselancar di lautan ide yang begitu luasnya.  Entah sampai kapan ia mengarungi lautan yang tak akan pernah ada batasnya.  Dalam pencarian ide tersebut, tangan ini pun masih terus menggerakkan pena yang menggoreskan ide-ide tersebut.  Sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan.
            Namun, itu semua harus aku jalani.  Karena itu merupakan sebuah proses yang harus ditempuh dalam menjalani kehidupan, khususnya dalam pencarian ilmu.  Karena dari setiap proses tersebut memberikan sebuah pengajaran yang dapat membuat hidup ini lebih baik lagi dari sebelumnya.
            Kaitannya dengan sebuah proses, pada pertemuan ketiga belas mata kuliah writing, Mr. Lala pun membahas mengenai sebuah pandangan proses dalam menulis atau A Process view of Writing.  Hal tersebut sebagaimana dikutip dalam bukunya Ken Hyland yang berjudul “Teaching and Researching Writing”.
            Di dalam A Process view of Writing terdapat lima point penting, diantaranya:
1)      Writing is Problem Solving
Dalam hal ini, menulis merupakan sebuah proses dalam penyelesaian masalah.  Seorang penulis menggunakan strategi-strategi hasil temuannya dan perencanaan yang luas untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah yang belum terpecahkan pada setiap tulisan.
2)      Writing is Generative
Dalam hal ini, menulis merupakan sebuah proses dalam menghasilkan ide.  Seorang penulis mengarungi lautan ide untuk bisa mengeksplor dan menemukan ide-ide untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.
3)      Writing is Recursive
Dalam hal ini, menulis merupakan sebuah proses yang berulang-ulang.  Seorang penulis secara konstan meninjau ulang dan memodifikasi teks mereka dan sering menghasilkan beberapa draf hingga tahap akhir penyelesaian dalam membuat sebuah tulisan.
4)      Writing is Collaborative
Dalam hal ini, menulis merupakan sebuah proses kerjasama.  Seorang penulis harus fokus terhadap timbal balik dari berbagai sumber.  Ketika seorang penulis tersebut melakukan kerjasama dengan yang lainnya, maka penulis tersebut harus fokus dan melakukan timbal balik dari apa yang mereka bahas atau bicarakan.
5)      Writing is Developmental
Dalam hal ini, menulis merupakan sebuah proses pengembangan.  Seorang penulis tidak dilihat hanya dari hasil akhirnya saja, tetapi pada setiap peningkatan yang mereka capai.

            Menurut Lehtonen, seorang penulis yang baik itu pada mulanya berasal dari seorang pembaca yang baik.  Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi seorang penulis yang baik, maka kemampuan membaca kita harus ditingkatkan terlebih dahulu agar bisa menjadi seorang pembaca yang baik atau qualified reader.
            Kembali kepada pembahasan argumentative essay mengenai Papua, sejarah merupakan alasan yang paling utama dalam mempertahankan papua di dalam NKRI.  Berhubungan dengan sejarah, maka terdapat historical pause, diantaranya:

  • Tahun 1908

Pada tahun 1908, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908 terdapat sejarah penting bagi Indonesia.  Hal tersebut merupakan titik pangkal dari kegiatan perjuangan nasional bangsa Indonesia. Peristiwa yang ditandai oleh berdirinya sebuah organisasi yang bernama Budi Utomo itu kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Karena arti penting dari kejadian itu dinyatakan sebagai awal lahirnya cita-cita kemerdekaan nusa dan bangsa secara menyeluruh, di samping timbulnya tekad untuk bersatu dalam menghadapi segala kesukaran bersama.
Berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 telah didahului oleh suatu peristiwa yang bersifat internasional. Peristiwa yang membuka mata dan memutuskan belenggu mental “minderwaardeg” bangsa-bangsa Asia, suatu anggapan bahwa bangsa Timur tidak akan dapat sejajar apalagi melebihi bangsa Barat.
Organisasi Budi Utomo lahir dan bergerak dalam pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan teknik-industri, kebudayaan, ilmu, cita-cita kemanusiaan, dan segala yang perlu untuk menjamin kehidupan bangsa yang terhormat. Tidak dimungkiri apabila Budi Utomo dalam masa permulaannya masih berada dalam “Fase Locaal Patriotisme” fase kedaerahan. Namun dalam kongresnya yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 5 Oktober 1908. Budi Utomo telah menunjukkan peranannya sebagai suatu organisasi yang berhasil mempersatukan segenap unsur yang mewakili lapisan masyarakat.

  • Tahun 1928

Pada tanggal 28 Oktober 1928 terdapat peristiwa sejarah penting di Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda.  Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.

  •  Tahun 1945

Pada tahun 1945 merupakan tahun dimana Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.  Maka dari itu, pada tahun 1945 terdapat rangkaian peristiwa sejarah menjelang proklamasi kemerdekaan RI, diantaranya:
·         Tanggal 6 Agustus 1945 -- 2 bom atom dijatuhkan ke dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat. Ini menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
·         Tanggal 7 Agustus 1945 -- BPUPKI berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
·         Tanggal 9 Agustus 1945 -- Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat diterbangkan ke Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang menuju kehancuran tetapi Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus.
·         Tanggal 10 Agustus 1945 -- Sementara itu, di Indonesia, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.
·         Tanggal 11 Agustus 1945 -- Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat dilaksanakan dalam beberapa hari.
·         Tanggal 14 Agustus 1945 -- Saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat (250 km di sebelah timur laut dari Saigon), Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu busuk Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro dengan Jepang. Hatta menceritakan kepada Sjahrir tentang hasil pertemuan di Dalat.
·         Tanggal 15 Agustus 1945 -- Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Belanda. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka), tetapi kantor tersebut kosong.
·         Tanggal 16 Agustus 1945 -- Gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pengikut Syahrir.  Soekarno didesak oleh sekitar 15 pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.  Para pemuda menculik Soekarno dan Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok, yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.
·         Tanggal 17 Agustus 1945 – Pelaksanaan pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945.  Soekarno dan Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang menandakan Hari kemerdekaan Indonesia.  Soekarno menjadi Presiden pertama dan Mohammad Hatta menjadi wakil Presiden pertama Indonesia.

  • Tahun 1960

Pada tahun 1960 terdapat rangkaian peristiwa sejarah di Indonesia, diantaranya:
·         Desember 1960 : Indonesia mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni-Soviet senilai $ 2,5 miliar dengan persyaratan pembayaran jangka panjang.
·         Tanggal 19 Desember 1961 : Soekarno mengumandangkan Operasi Trikora di alun-alun Utara Yogyakarta.
·         Tanggal 15 Agustus 1962 : Indonesia dengan Belanda mengadakan Perundingan di Markas PBB di New York dan dikenal dengan Perjanjian New York.
·         Tanggal 1 Mei 1963        : Langkah strategis berdasarkan Perjanjian New York yang memperkuat kembalinya kembalinya Papua ke pengakuan Ibu Pertiwi.
Pada kesimpulannya yaitu pada pertemuan kali ini masih berselancar di lautan ide.  Lautan ide disini maksudnya yaitu masih berkutat dengan argumentative essay mengenai permasalahan yang ada di Papua Barat.  Permasalahan yang sepertinya tak kunjung habis ini membuat banyak pihak ingin menguasai tanah yang dianugerahi dengan berbagai macam potensi didalamnya.  Oleh karena itu, Indonesia juga harus tetap mempertahankan Papua menjadi bagian NKRI. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic