We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Senin, 02 Juni 2014

Class review 12

Perjalanan Panjang untuk West Papua


            Ini benar-benar minggu sibuk. Tugas hilir  mudik sana sini. Dua minggu terakhir tidurku tak pernah dibuat nyenyak, ditambah lagi dengan pertemuan writing yang dipercepat. Sangat dipercepat. Ini membuat malamku tambah gila saja. Tapi tak apa, pasti semua bisa terlewati dengan baik.
            Pertemuan ke dua belas berlansung pagi tadi, tepatnya pada Selasa, 13 Mei 2014. Agak aneh memang karena class review dan revisi paper harus selasai besok pagi lantaran kesibukan Mr. Lala pada minggu selanjutnya dan kami harus mengganti jadwal pertemuan pada 14 Mei 2014 besok.
            Pembahasan tadi padi masih dengan isu paling panas dalam akademc writing. Isu paling panas di sini kita masih akan mendalami tentang West Papu dengan segala konflik di dalamnya. Masalah-masalah yang paling panas pada West Papua tentang kemerdekaan tanah Papua seakan menjadi konflik-konflik yang tak pernah henti untuk dipetakan.
            Beberapa alasan yang kuat mengapa West Papua harus tetap menjadi bagian dari NKRI dilihat dari sisi sejarah memiliki alasan yang kuat. Tatapi sejarah di sini bukan hanya sejarah saja tanpa penjelasan apa-apa tatapi bagaimana kita dapat menghubungkan sejarah dengan literasi serta idologi sehingga benar-benar tercipta sebuah argumen yang kuat untuk memecahkan konflik panas ini.
            Sebagai penasan pada pertemuan pagi tadi, Mr. Lala mengutip dari buku karangan Hyland (2003) di bawah ini:
A process view of writing
Ø  Writing is problem-solving: writers use invention strategies and extensive planning to resolve the rhetorical problems that each writing task presents.
Ø  Writing is generative: writers explore and discover ideas as they write.
Ø  Writing is recursive: writers constantly review and modify their texts as they write and often produce several drafts to achieve a finished product.
Ø  Writing is collaborative: writers benefit from focused feedback from a variety of sources.
Ø  Writing is developmental: writers should not be evaluated only on their final products but on their improvement.
Dari sini kita dapat melihat bahwa proses menulis bukanlah sebuah proses yang sederhana. Dari point pertama, menulis merupakan sebuah pemecahan masalah. Dikatakan pemeahan masalah karena penulis menggunakan starategi penemuan dan perencaan yang luas untuk memecahkan masalah teori yang ada dalam menulis.
Point kedua, dalam menulis menjelajahi dan menemuakan ide-ide dalam menulis. Ini berarti bahwa penulis harus benar-benar pengetahui apa yang penulis tulis dengan begitu penulis mampu menjelajahi dan menemukan ide-ide baru dalam setiap tulisannya.
Point ketiga, menulis adalah kegiatang yang berulang. Dari sini penulis harus secara konstan meninjau dan memodifikasi teks penulis melalui draf-draf untuk meningkatkan kualitas dari teks untuk produk akhir penulis.
Point ketiga, penulis dapat menganbil mamnfaat dri proses feed back dari berbagai sumber.
Point keempat, menulis merupakan proses pengembangan. Penulis tidak hanya melihat dari produk akhir, tetapi juga dapat melihat dan mengevaluasi bagaimana perkembangan tulisan penulis pada saat proses pengerjaan.
Dari kutipan Hyland di atas akhirnya kita dapat memahami mengapa pada academic writing dalam setiap pengumpulan tugasnya selalu direvisi dan revisi lagi kerena hal ini mengacu pada apa yang ditulis oleh Hyland agar memaksimalkan kemampuan mahasiswa dalam menulis.
Beranjak pada point inti, pertemuan pagi tadi berlansung sama seperti pertemuan minggu lalu. Seluruh mahasiswa ditanyai satu persatu tentang tulisaanya. Satu yang ditekankan pada pembhasan pagi tadi yaitu bagaiman mahasiswa mengsingkronkan argumentative essay mereka dengan artikel yang ditulis oleh Eben. Satu lagi hal yang paling ditekannkan yakni tentang sejarah. Sebagaimana dibahas dalam class review sebelumnya yang berjudul “Argumentative Essay dan Sejarah” sejarah menjadi alasan yang paling kuat untuk memetakan konflik West Papua ini. Sebagai tambahan, dibawah ini merupakan pembahasan sejarah sebelum Indonesia meraih kemerdekaan yang belum dibahsa pada class review sebelumnya.
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari tidak kurang 13.000 pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (hasil survei dan verifikasi terakhir Kementerian Kelautan dan Perikanan). Beragam suku bangsa, bahasa dan agama juga menjadi hal yang unik dari Bangsa Indonesia. Sedikit saja gesekan yang terjadi dalam masyarakat maka akan berakibat fatal, sering kita saksikan dalam media massa beberapa peristiwa yang mencabik-cabik rasa nasionalisme kebangsaan. Perang antar suku, pemberontakan, tawuran warga dan lain-lain yang dapat menjadi pemicu disintegrasi bangsa.

Untuk itu diperlukan rasa kebangsaan yang tinggi agar Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang menjadi slogan belaka, tetapi benar-benar dapat menjiwai perilaku seluruh rakyat Indonesia. Dan salah satu hal yang bisa menumbuhkan rasa kebangsaan adalah Kebangkitan Nasional, bangkit dari keterpurukan, bangkit dari ketertinggalan, bangkit dari ketidakadilan, bangkit dari kemiskinan dan kebodohan. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesaia (NKRI) seharusnya Pemerintah memberikan perlakuan yang sama terhadap rakyatnya dari Sabang sampai Marauke, bila rakyat di satu wilayah sejahtera maka selayaknya rakyat di wilayah lainpun sejahtera agar asas Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jika kita kembali kepada sejarah, kebangkitan nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji serta digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo pada awalnya bukan organisasi politik, tetapi lebih kepada organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Namun seiring waktu Boedi Oetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.
Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan tanggal 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Saat itu organisasi Boedi Oetomo telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres pertamanya ini Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) yang berasal dari kaum priyayi diangkat sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Dan sejak itu banyak anggota baru yang berasal dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo, namun hal ini justru membuat anggota dari kalangan pemuda memilih keluar dari organisasi ini.
Organisasi Boedi Oetomo sendiri dalam perjalanan sejarahnya mengalami beberapa kali pergantian pimpinan dan sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo mantan Bupati Karanganyar yang menjadi presiden pertama Budi Utomo dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

Berturut-turut setelah Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908 diikuti berdirinya Partai Politik pertama di Indonesia Indische Partij pada tahun 1912, kemudian pada tahun yang sama Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang. Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya sebagaimana disebutkan di atas, maka tanggal kelahiran Boedi Oetomo yaitu 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air api udara" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.
Dari pembahasan diatas kita dapat menari kesimpulan bahwa sejarah yang menyangkut tentang West Papua tidak hanya dimulai pada saat kemerdekaan RI saja, tatepi juga berkaitan erat dengan sejarah pada zaman kebangkitan nasional pada tahun 1908.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic