We are simple, but no simple impact. Proudly Presents, PBI C 2012. Happy Reading!

Course: Writing and Composition 4

Instructor : Lala Bumela

This website created by : College student from The State Institute of Islamic Studies Syekh Nurjati Cirebon, The Dapartment of English Education 2012.


widgets

Senin, 03 Maret 2014

SETITIK CAHAYA DALAM MENCARI INSPIRASI

Class Review 4




Terbangun dari mimpi indah. Menghirup udara sejuk lewat celah-celah jendela. Kota majalengka yang sejuk. Kini dapat kurasakan kembali. Awan biru dengan kicauan burung di atas langit menari riang dengan begitu indahnya. Betapa cerahnya pagi ini. Bunga mawar merah pun mekar di setiap sudut rumah. Indah. Begitu indahnya kampung halamanku. Suasana hati yang cerah menghantarkanku lewat tulisan. Inilah saat dimana aku mulai menulis kembali. Menulis rangkaian kata-kata dalam buku catatan class review. Mencari inspirasi dalam sepi. Catatan class review ini akan menjadi saksi bisu dalam perjalananku meraih cita-cita. Cita-cita yang akan mengantarkanku pada kesuksesan. Ingin rasanya melihat kedua orang tuaku tersenyum dan menangis bahagia menyaksikan anaknya lulus sarjana. Cita-citaku begitu sederhana. Aku hanya ingin orang tuaku bangga kepadaku. Kesuksesan adalah kunci utama untuk membahagiakan mereka. Ribuan kata terimakasih tak akan dapat membalas semua kasih sayang yang telah mereka berikan. Selama 20 tahun mereka tidak pernah mengeluh membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Inilah alasan aku bertahan. Demi kedua orang tuaku. Tak ada alasan untuk menyerah. Ketika keputusasaan datang. Merekalah pelita hatiku. Penerang dalam setiap liku-liku yang aku hadapi. Begitu besar aku mencintai mereka. Begitu besar pula mereka mencintaiku. Beribu-biru rangkaian kata yang kutulis merupakan kekuatan dari mereka. Inilah saat dimana aku mulai menulis kembali. Inilah saat dimana aku bertarung dalam tulisanku. Menjadikan tulisan ini sebagai temanku di setiap minggunya.
Mata kuliah “Writing and Composition 4” telah memasuki pertemuan keempat. Pada pertemuan keempat, mata kuliah ini dimulai pada hari Selasa, 25 Februari 2014. Tepatnya pukul 10.50 di ruang 44 Gedung PBI. Mata kuliah ini dibimbing oleh dosen yang sangat luar biasa sekali yaitu Mr. Lala Bumela, M. Pd. Pertemuan sebelumnya, kami ditugaskan untuk membuat “Critical Review” sebanyak 2500 kata dari artikel Prof. A. Chaedar Alwasilah yang berjudul “Classroom Discourse to Foster Religious Harmony”. Sangat sulit membuat critical review dari tulisan beliau, karena tulisan beliau didasarkan pada fakta dan bukti yang nyata. Sehingga kami mengalami kesulitan untuk menyanggah pernyataan beliau dalam tulisannya. Pada pertemuan kali ini, kami juga ditugaskan untuk membuat “Critical Review” sebanyak 2500 kata. Amazing bukan? Ya, karena dosen yang mengajar kami merupakan dosen yang sangat luar biasa. Maka dari itu, kami sebagai siswanya harus bisa menjadi mahasiswa yang luar biasa pula dalam menulis.
Menulis bukanlah hal yang mudah. Butuh proses yang panjang dalam menulis. dibutuhkan pula kesabaran yang luar biasa, serta dibutuhkan pula endurance yang luar biasa. Kami harus bisa mengapresiasi endurance. Hal yang paling penting diantara yang terpenting adalah begitu sulitnya mencari inspirasi untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Maka dari itu “berkariblah dengan sepi, sebab dalam sepi ada [momen] penemuan dari apa yang dalam riuh gelisah dicari. Berkariblah dengan sepi, sejak dalam sepi kita menemukan diri yang luput dari penglihatan dan kesadaran ketika beredar dalam ramai. Berkariblah dengan sepi karena dalam sepi berlalu lalang inspirasi yang tak kita mengerti, atau tak dapat kita tangkapi ketika kita sibuk berjalan dalam hingar yang pekak. Berkariblah dalam sepi sebab dalam sepi suara hati lebih nyaring terdengar jernih. (Budi Hermawan). itulah kata-kata mutiara indah yang saya dapatkan dari Mr. Lala Bumela, M. Pd.
Ketika kami membuat critical review tentang “Classroom Discourse to Foster Religious Harmony” dari artikelnya Prof. A. Chaedar Alwasilah, ternyata kami kurang memahami tentang isi artikel tersebut. Seharusnya kami lebih membahas tentang classroom discourse bukan lebih membahas kepada religious harmony. Disini, kami kurang reader, seharusnya kami mampu menjadi “Qualified Reader”.  Untuk menjadi pembaca yang berkualitas kami harus menjernihkan hati dulu. Untuk mendapatkan inspirasi kami harus jernih hatinya. Classroom discourse ini lebih complicated – interaction – talk. Maksud complicated disini adalah cara kita berinteraksi di kelas itu seperti apa dan cara kita berinteraksi di luar kelas itu seperti apa. Tentunya akan sangat berbeda, karena kelas merupakan situs suci untuk proses belajar dan mengajar di kelas. Hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk ke kelas, yaitu orang-orang yang mempunyai tujuan untuk belajar. Complicated disini terdiri dari tiga point penting, yaitu:
1.      Background
Background ini terdiri dari politik, ekonomi, sosial, budaya. Latarbelakang setiap siswa tentulah berbeda. Dari segi ekonomi dan budaya adalah hal yang paling menonjol. Tapi bagaimana siswa itu sendiri mampu menyatukan setiap perbedaan yang ada.
2.      Communicative Strategis
Communicative strategis adalah strategi yang berfikir jauh kedepan, karena suatu pembelajaran dalam kelas itu mempunyai maknan tersendiri untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
3.      Meaning Making Practice
Setiap siswa tentunya mempunyai pemahaman yang berbeda dalam proses pembelajaran di kelas. Setiap siswa mempunyai alasan yang berbeda pula dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini yang akan mempengaruhi siswa dalam bertindak dan bagaimana dia bersikap. Setiap siswa mempunyai alasan yang berbeda ketika berada di kelas. Ada diantara mereka yang serius untuk belajar dan ada pula diantara mereka yang tidak serius dalam belajar. Meaning making practice ini akan menghasilkan ideologi dan values.
·         Ideologi adalah sebuah sistem nilai atau keyakinan yang diterima sebagai fakta atau kebenaran oleh kelompok tertentu. Pembelajaran “Writing and Composition 4” di IAIN Syekh Nurjati Cirebon tentunya berbeda dengan pembelajaran di universitas lain. Perbedaan tersebut merupakan ideologi.
·         Values (nilai-nilai) mempengaruhi siswa dalam bersikap dan bertindak di kelas, seperti disiplin dan teamwork. Ada anak yang disiplin dan ada juga anak yang tidak disiplin. Sikap disiplin di negara lain sangatlah tinggi. Sangat berbeda sekali dengan negara kita.
Disini saya akan sedikit membahas tentang “Classroom Discourse”. Classroom discourse analysis adalah studi tentang bagaimana bahasa - di-gunakan dipengaruhi oleh konteks –nya gunakan. Di dalam kelas, konteks dapat berkisar dari pembicaraan dalam pelajaran, untuk siswa seumur hidup sosialisasi, dengan sejarah lembaga pendidikan. ceramah analisis kelas menjadi analisis wacana kritis ketika kelas-kelas peneliti mengambil efek dari konteks variabel tersebut menjadi pertimbangan dalam analisis mereka.
Definisi paling sederhana dari wacana adalah bahasa - di-gunakan. Hal ini mungkin mengganggu jelas. Bahasa selalu digunakan, jadi mengapa tidak hanya menyebutnya "bahasa" ? Karena, fitur " wacana " mendefinisikan ( bahwa itu adalah " in- use" ) adalah fitur yang sebagian orang percaya adalah bukan komponen penting dari bahasa. Sebaliknya, beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa Fitur bahasa mendefinisikan adalah kemampuannya untuk de- dikontekstualisasikan. Sebagai contoh, kata "Pohon" tidak perlu "pohon" sekitar untuk dipahami. Seorang siswa akan memberitahu Anda ia melihat "Pohon" hari ini, dan Anda akan tahu apa yang dia maksud. Dia tidak perlu menunjuk pohon atau menggambar untuk Anda. Dalam hal ini, bahasa adalah de - contextualizable dan hal ini dapat menjadi fitur yang membuat unik bahasa manusia.
·         Konteks (Kelas dan Beyond)
Bagaimana sebuah kata yang digunakan tergantung pada konteks. Dalam buku ini, yang paling jelas, "The Classroom" adalah konteks utama dan paling jelas untuk wacana kita akan memeriksa. Namun, "konteks" untuk analisis wacana kelas juga meluas di luar kelas, dan dalam komponen yang berbeda dari bicara kelas, untuk mencakup konteks yang mempengaruhi apa yang dikatakan dan bagaimana hal itu ditafsirkan dalam kelas. Konteks dapat dibatasi oleh batas-batas yang sesuai fisik bahasa di rumah mungkin berbeda dari bahasa yang sesuai di sekolah, tetapi konteks juga dapat dibatasi oleh batas-batas fisik tidak, tetapi oleh batas-batas yang sesuai wacana bahasa dalam pelajaran mungkin berbeda dari bahasa yang sesuai setelah pelajaran berakhir (bahkan sambil duduk di meja yang sama). Meskipun kita akan melihat pembicaraan yang terjadi di dalam kelas, semuanya mengatakan dalam kelas juga dipengaruhi, untuk berbagai tingkat, dengan konteks di luar kelas. Dan, banyak bentuk wacana memiliki arti yang berbeda jika terjadi di kelas daripada mereka akan jika mereka terjadi di luar kelas. Kelas penelitian di berbagai situasi telah menunjukkan bahwa interaksi kelas secara dramatis constrains apa jenis bahasa dan keaksaraan peristiwa didorong atau dibiarkan (McGroarty, 1996), sedangkan wacana di luar konteks kelas memiliki lebih luas berbagai kemungkinan yang dapat diterima dan produktif. Dalam keluarga atau peer group pengaturan, untuk Misalnya, siswa dapat didorong untuk berbicara panjang lebar, menceritakan kisah-kisah imajinatif, atau rok topik awalnya diperkenalkan, yang mendukung menghibur samping. Di ruang kelas sekolah, sebagai Holden Caulfield menunjukkan di JD Sallinger 's The Catcher in the Ry e, pembicaraan tersebut dapat berlabel sebagai "penyimpangan" yang sama sekali tidak cocok (Salinger, 1951). Rasa ingin tahu dan kreativitas menyambut dan mendorong dalam konteks lai , ketika dibawa ke dalam konteks kelas, dapat dihitung sebagai mengganggu.
Bahkan berbicara setelah pelajaran resmi berakhir terjadi dalam berbagai jenis konteks daripada berbicara dalam pelajaran, ini belum tentu perbedaan dalam konteks fisik, tetapi perbedaan dalam konteks wacana. Ketika pelajaran berakhir, guru bijaksana, mungkin, untuk Misalnya, mengambil cerita bahwa siswa tidak diperbolehkan untuk mengatakan selama pelajaran resmi waktu. Dalam kutipan dari kelas bawah berbicara, sementara masih duduk di meja dengan siswa, tapi setelah pelajaran resmi telah datang untuk menutup , guru meminta anak tentang nya ulang tahun, mengakui bahwa itu adalah sesuatu yang anak itu "berusaha untuk memberitahu kami " sebelum pelajaran sudah berakhir ( Rymes , 2003) :
Ms Spring: Beritahu kami tentang pesta ulang tahun Anda. Kau mencoba ingin untuk memberitahu kami sebelumnya dan aku tak bisa mendengarkan kamu.
Rene : pesta ulang tahun saya adalah pada hari Minggu .
Ms Spring: Apa yang akan kalian lakukan?
Seperti pembicaraan ini menggambarkan, guru ini tidak bertentangan dengan mendengar cerita ulang tahun, tapi hanya saja tidak dalam pembicaraan pelajaran resmi konteks ketika dia " tidak bisa mendengarkan".
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa classrom discourse sangat penting dalam pembelajaran di kelas. Selain itu, dibutuhkan endurance dalam menulis, karena menulis bukanlah hal yang mudah. Butuh kesabaran yang sangat luar biasa. Satu hal yang paling penting, Berkariblah dengan sepi karena dalam sepi berlalu lalang inspirasi yang tak kita mengerti, atau tak dapat kita tangkapi ketika kita sibuk berjalan dalam hingar yang pekak. Jernihkanlah pula hati kita, karena inspirasi datang kepada hati yang jernih.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

a space for comment and critic